Pos

ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT (TRAINING NEED ANALYSIS/TNA) RUMAH SAKIT: STRATEGI MENINGKATKAN KOMPETENSI DAN KINERJA SDM

ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT (TRAINING NEED ANALYSIS/TNA) RUMAH SAKIT: STRATEGI MENINGKATKAN KOMPETENSI DAN KINERJA SDM

Diklat Consulting Training Indonesia


Pengertian Analisis Kebutuhan Diklat (Training Need Analysis/TNA) Rumah Sakit

Analisis Kebutuhan Diklat atau Training Need Analysis (TNA) merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi pegawai berdasarkan kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif.

Dalam lingkungan rumah sakit, TNA menjadi bagian penting dalam perencanaan pengembangan sumber daya manusia karena kebutuhan kompetensi dapat berbeda berdasarkan profesi, jabatan, unit kerja, jenis pelayanan, serta tuntutan organisasi.

Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan Pedoman Training Need Assessment bagi Pengelola Sumber Daya Manusia Kesehatan sebagai acuan bagi institusi penyelenggara pelatihan bidang kesehatan dalam mengkaji kebutuhan pelatihan SDM kesehatan.


Mengapa TNA Penting bagi Rumah Sakit?

Rumah sakit memiliki tenaga kesehatan dan tenaga pendukung dengan kompetensi serta kebutuhan pengembangan yang beragam. Karena itu, program pelatihan sebaiknya tidak hanya disusun berdasarkan permintaan individu atau kebiasaan pelaksanaan pelatihan tahun sebelumnya.

TNA membantu rumah sakit menentukan pelatihan apa yang benar-benar dibutuhkan, siapa yang membutuhkan, mengapa pelatihan tersebut diperlukan, dan seberapa besar prioritasnya.

Penerapan TNA dapat membantu:

  • Mengidentifikasi kesenjangan kompetensi.
  • Menentukan prioritas kebutuhan pelatihan.
  • Menyusun program diklat berdasarkan kebutuhan nyata.
  • Mengoptimalkan anggaran pengembangan SDM.
  • Menghindari pelatihan yang tidak sesuai kebutuhan.
  • Menyesuaikan pelatihan dengan tuntutan pekerjaan.
  • Mendukung peningkatan kinerja pegawai.
  • Mendukung pengembangan kompetensi SDM secara berkelanjutan.

Petunjuk teknis Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa TNA digunakan untuk menentukan kebutuhan pelatihan yang menjadi prioritas sehingga perencanaan pelatihan memiliki tujuan dan target pelaksanaan yang jelas.


Tujuan Training Need Analysis Rumah Sakit

Secara umum, TNA bertujuan untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai kebutuhan pengembangan kompetensi SDM.

Tujuan TNA antara lain:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan kompetensi organisasi.
  2. Mengetahui kesenjangan kompetensi pegawai.
  3. Menentukan kebutuhan pelatihan pada setiap unit.
  4. Menentukan prioritas pelatihan.
  5. Menyusun program pelatihan yang sesuai kebutuhan.
  6. Mengoptimalkan penggunaan anggaran pelatihan.
  7. Menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan kompetensi.
  8. Mendukung peningkatan kinerja individu dan organisasi.

Tingkatan Analisis Kebutuhan Diklat

TNA rumah sakit dapat dilakukan pada beberapa tingkatan.

1. Analisis Tingkat Organisasi

Analisis organisasi melihat kebutuhan kompetensi berdasarkan arah dan kebutuhan rumah sakit secara keseluruhan.

Hal yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Visi dan misi rumah sakit.
  • Rencana strategis.
  • Perubahan kebijakan.
  • Perkembangan pelayanan.
  • Perubahan teknologi.
  • Hasil evaluasi kinerja.
  • Kebutuhan peningkatan mutu.
  • Kebutuhan keselamatan pasien.
  • Hasil akreditasi dan evaluasi internal.

2. Analisis Tingkat Unit Kerja

Analisis unit melihat kebutuhan kompetensi berdasarkan karakteristik dan tuntutan pekerjaan pada masing-masing unit.

Contohnya:

  • Instalasi gawat darurat.
  • Rawat jalan.
  • Rawat inap.
  • Kamar operasi.
  • Laboratorium.
  • Radiologi.
  • Farmasi.
  • Rekam medis.
  • Keperawatan.
  • Bagian administrasi.
  • Bagian keuangan.
  • Unit penunjang lainnya.

Setiap unit dapat memiliki kebutuhan pelatihan yang berbeda sehingga program pelatihan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing unit.


3. Analisis Tingkat Individu

Analisis individu bertujuan mengetahui kompetensi masing-masing pegawai dan membandingkannya dengan kompetensi yang dipersyaratkan oleh pekerjaan.

Aspek yang dapat dianalisis meliputi:

  • Pengetahuan.
  • Keterampilan.
  • Sikap dan perilaku kerja.
  • Standar kompetensi jabatan.
  • Hasil penilaian kinerja.
  • Riwayat pendidikan.
  • Riwayat pelatihan.
  • Hasil asesmen kompetensi.
  • Kebutuhan pengembangan karier.

Identifikasi Gap Kompetensi

Salah satu bagian penting dalam TNA adalah analisis kesenjangan kompetensi atau competency gap.

Secara sederhana:

Kompetensi yang Dibutuhkan – Kompetensi yang Dimiliki = Gap Kompetensi

Contohnya, seorang pegawai membutuhkan kompetensi tertentu untuk menjalankan tugasnya, tetapi hasil asesmen menunjukkan bahwa masih terdapat kekurangan pengetahuan atau keterampilan.

Kesenjangan tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan apakah solusi yang diperlukan adalah pelatihan atau bentuk pengembangan lainnya.

Hal ini penting karena tidak semua masalah kinerja dapat diselesaikan melalui pelatihan.

Apakah Semua Gap Kompetensi Harus Diselesaikan dengan Pelatihan?

Tidak.

Pelatihan merupakan salah satu solusi pengembangan kompetensi, tetapi bukan satu-satunya solusi.

Permasalahan kinerja dapat disebabkan oleh:

  • Kurangnya pengetahuan.
  • Kurangnya keterampilan.
  • Prosedur kerja yang belum jelas.
  • Beban kerja.
  • Keterbatasan fasilitas.
  • Sistem kerja.
  • Kurangnya supervisi.
  • Masalah komunikasi.
  • Ketidaksesuaian penempatan.

Jika masalah bukan disebabkan oleh kekurangan kompetensi, maka pelatihan belum tentu menjadi solusi yang paling tepat.

Karena itu, TNA harus dilakukan secara objektif berdasarkan data.


Metode Pengumpulan Data TNA

Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, rumah sakit dapat menggunakan beberapa metode, seperti:

1. Kuesioner

Kuesioner digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan pelatihan dari pegawai atau unit kerja.

2. Wawancara

Wawancara dapat dilakukan dengan kepala unit, atasan langsung, pengelola SDM, maupun pegawai.

3. Observasi

Observasi dilakukan dengan melihat secara langsung pelaksanaan pekerjaan untuk mengetahui kesenjangan kompetensi.

4. Analisis Kinerja

Data penilaian kinerja dapat digunakan untuk menemukan area yang membutuhkan peningkatan kompetensi.

5. Analisis Riwayat Pelatihan

Riwayat pelatihan membantu melihat pelatihan yang telah diikuti dan kebutuhan kompetensi yang belum terpenuhi.

6. Analisis Standar Kompetensi

Kompetensi aktual pegawai dibandingkan dengan standar kompetensi jabatan atau standar kompetensi yang dibutuhkan.

7. Analisis Data Organisasi

Data mutu, keselamatan pasien, keluhan, insiden, audit, dan indikator kinerja dapat menjadi sumber informasi dalam menentukan kebutuhan pengembangan kompetensi.


Pendekatan DIF dalam TNA

Kementerian Kesehatan juga menerbitkan petunjuk teknis TNA bidang kesehatan dengan pendekatan Difficult, Important & Frequency (DIF) Analysis.

Pendekatan ini dapat membantu menentukan prioritas kebutuhan pelatihan berdasarkan:

  • Difficult — tingkat kesulitan pekerjaan atau kompetensi yang dibutuhkan.
  • Important — tingkat pentingnya kompetensi terhadap pekerjaan dan organisasi.
  • Frequency — seberapa sering pekerjaan atau kompetensi tersebut digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan pelatihan dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat kepentingannya, bukan hanya berdasarkan banyaknya permintaan pelatihan.


Menentukan Prioritas Pelatihan

Setelah data TNA terkumpul, rumah sakit perlu melakukan pemeringkatan kebutuhan.

Prioritas dapat mempertimbangkan:

  1. Besarnya kesenjangan kompetensi.
  2. Dampak terhadap mutu pelayanan.
  3. Dampak terhadap keselamatan pasien.
  4. Tingkat urgensi.
  5. Jumlah pegawai yang membutuhkan.
  6. Frekuensi penggunaan kompetensi.
  7. Kebutuhan organisasi.
  8. Perubahan kebijakan atau teknologi.
  9. Ketersediaan anggaran.
  10. Target pengembangan SDM.

Dengan demikian, rumah sakit tidak hanya memiliki daftar pelatihan, tetapi juga memiliki urutan prioritas pelatihan.


Contoh TNA di Rumah Sakit

Sebagai contoh, sebuah rumah sakit menemukan bahwa sebagian tenaga pada unit tertentu masih memiliki kesenjangan kompetensi dalam penggunaan sistem baru.

Hasil analisis menunjukkan:

Kondisi yang dibutuhkan:
Pegawai mampu menggunakan sistem sesuai prosedur.

Kondisi aktual:
Sebagian pegawai belum menguasai fitur dan prosedur penggunaan sistem.

Gap:
Terdapat kesenjangan kompetensi.

Solusi:
Dilakukan pelatihan apabila hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab utama memang kekurangan pengetahuan atau keterampilan.

Evaluasi:
Setelah pelatihan dilakukan, rumah sakit menilai apakah kompetensi dan kinerja pegawai mengalami peningkatan.

Dengan cara tersebut, pelatihan menjadi bagian dari proses pengembangan yang berbasis kebutuhan.


Hubungan TNA dengan Program Diklat Tahunan Rumah Sakit

Hasil TNA dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana program diklat tahunan.

Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Identifikasi kebutuhan → Analisis kompetensi → Identifikasi gap → Penentuan prioritas → Penyusunan program diklat → Pelaksanaan → Evaluasi

Dengan pendekatan tersebut, program diklat menjadi lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.


TNA dan Efisiensi Anggaran Pelatihan

Pelatihan membutuhkan sumber daya, baik biaya, waktu, tenaga pengajar, fasilitas, maupun waktu kerja peserta.

Karena itu, rumah sakit perlu memastikan bahwa anggaran pelatihan digunakan untuk kebutuhan yang memberikan manfaat nyata.

TNA membantu mengurangi risiko:

  • Pelatihan yang tidak sesuai kebutuhan.
  • Peserta yang tidak tepat.
  • Pengulangan pelatihan yang tidak diperlukan.
  • Penggunaan anggaran yang kurang efektif.
  • Program pelatihan tanpa prioritas yang jelas.

Kementerian Kesehatan menempatkan TNA sebagai bagian penting dalam penyusunan program pelatihan dan peningkatan kompetensi SDM kesehatan.


TNA untuk Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan

TNA bukan kegiatan yang hanya dilakukan satu kali.

Kebutuhan kompetensi dapat berubah karena:

  • Perubahan teknologi.
  • Perubahan jenis pelayanan.
  • Perubahan regulasi.
  • Perubahan standar kompetensi.
  • Perubahan organisasi.
  • Hasil evaluasi kinerja.
  • Perubahan kebutuhan pasien.
  • Hasil audit dan evaluasi mutu.

Oleh karena itu, rumah sakit perlu melakukan review kebutuhan kompetensi secara berkala agar program pengembangan SDM tetap relevan.


Kompetensi Pengelola TNA Rumah Sakit

Pengelola TNA perlu memiliki kemampuan untuk:

  • Memahami konsep TNA.
  • Mengidentifikasi kebutuhan kompetensi.
  • Mengumpulkan data.
  • Menganalisis kesenjangan kompetensi.
  • Menentukan prioritas kebutuhan pelatihan.
  • Menyusun instrumen TNA.
  • Mengolah dan menganalisis hasil TNA.
  • Menyusun rekomendasi program pelatihan.
  • Menghubungkan TNA dengan rencana pengembangan SDM.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi.

Kesimpulan

Training Need Analysis (TNA) Rumah Sakit merupakan proses penting untuk memastikan program pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan kompetensi yang nyata.

TNA membantu rumah sakit mengidentifikasi kebutuhan pada tingkat organisasi, unit kerja, dan individu; menganalisis kesenjangan kompetensi; menentukan prioritas; serta menyusun program pelatihan yang lebih tepat sasaran.

Dengan TNA yang dilakukan secara sistematis, rumah sakit dapat meningkatkan efektivitas pengembangan SDM, menggunakan anggaran pelatihan secara lebih optimal, dan memastikan program diklat benar-benar mendukung kebutuhan organisasi serta peningkatan mutu pelayanan.


FAQ

Apa itu Training Need Analysis (TNA) rumah sakit?

TNA rumah sakit adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan kompetensi SDM berdasarkan kebutuhan organisasi, unit kerja, dan individu.

Mengapa rumah sakit perlu melakukan TNA?

TNA membantu rumah sakit menentukan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan sehingga program pengembangan kompetensi menjadi lebih tepat sasaran dan efisien.

Siapa yang melakukan TNA di rumah sakit?

TNA dapat melibatkan bagian SDM atau diklat, kepala unit, atasan langsung, manajemen, dan pihak terkait lainnya sesuai kebutuhan organisasi.

Apa saja yang dianalisis dalam TNA?

Analisis dapat mencakup kebutuhan organisasi, kebutuhan unit kerja, kebutuhan individu, standar kompetensi, kesenjangan kompetensi, kinerja, serta riwayat pelatihan.

Apakah semua masalah kinerja harus diselesaikan dengan pelatihan?

Tidak. Pelatihan tepat digunakan apabila masalah memang berkaitan dengan kekurangan pengetahuan, keterampilan, atau kompetensi yang dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran.


Baca Juga :


Pelatihan Analisis Kebutuhan Diklat (Training Need Analysis/TNA) Rumah Sakit

Untuk meningkatkan kemampuan pengelola SDM dan diklat dalam melakukan analisis kebutuhan pelatihan, Diklat Consulting Training Indonesia dapat menyelenggarakan Pelatihan Analisis Kebutuhan Diklat (Training Need Analysis/TNA) Rumah Sakit.

Materi pelatihan dapat mencakup konsep TNA, identifikasi kebutuhan kompetensi, analisis gap, analisis tingkat organisasi, unit dan individu, penyusunan instrumen TNA, penentuan prioritas pelatihan, penyusunan training plan, serta evaluasi hasil pelatihan.

Pelatihan dapat diselenggarakan secara online, tatap muka, maupun in-house training sesuai kebutuhan rumah sakit dan instansi.

Diklat Consulting Training Indonesia
Meningkatkan Kompetensi, Membangun Profesionalisme.

PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

“Menyusun Analisis Kebutuhan Pelatihan yang Tepat untuk Meningkatkan Kompetensi dan Kinerja SDM”

Diselenggarakan oleh: Diklat Consulting Training Indonesia


LATAR BELAKANG

Pelatihan Training Need Analysis (TNA) merupakan program pengembangan kompetensi yang dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengidentifikasi kebutuhan pelatihan secara sistematis, objektif, dan berbasis data. Training Need Analysis (TNA) merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam manajemen pelatihan karena menjadi dasar dalam menentukan jenis pelatihan yang benar-benar dibutuhkan oleh organisasi maupun individu.

Di era persaingan yang semakin kompetitif, organisasi dituntut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi, regulasi, serta tuntutan bisnis. Namun, tidak sedikit organisasi yang masih menyelenggarakan pelatihan tanpa didasarkan pada analisis kebutuhan yang tepat. Akibatnya, pelatihan yang dilaksanakan kurang efektif, tidak memberikan dampak terhadap peningkatan kompetensi, bahkan mengakibatkan pemborosan anggaran pelatihan.

Training Need Analysis (TNA) merupakan proses mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara kompetensi yang dimiliki pegawai dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi untuk mencapai sasaran strategis. Melalui TNA, organisasi dapat menentukan prioritas pengembangan SDM, menyusun program pelatihan yang relevan, mengalokasikan anggaran secara efektif, serta mengevaluasi keberhasilan program pengembangan kompetensi.

Pelatihan ini memberikan pemahaman mengenai konsep dasar TNA, teknik identifikasi kebutuhan pelatihan, analisis kompetensi, penyusunan matriks kompetensi, metode pengumpulan data, penyusunan rekomendasi program pelatihan, hingga penyusunan rencana pelatihan tahunan yang selaras dengan strategi organisasi. Materi disampaikan secara aplikatif melalui diskusi, studi kasus, dan praktik penyusunan dokumen TNA sehingga dapat langsung diterapkan di lingkungan kerja.


TUJUAN PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:

  • Memahami konsep dan manfaat Training Need Analysis (TNA).
  • Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan berdasarkan analisis kompetensi.
  • Menganalisis kesenjangan kompetensi (Competency Gap Analysis).
  • Menentukan prioritas pelatihan sesuai kebutuhan organisasi.
  • Menyusun matriks kompetensi pegawai.
  • Menggunakan berbagai metode pengumpulan data TNA.
  • Menyusun rekomendasi program pelatihan berbasis hasil analisis.
  • Menyusun rencana pelatihan tahunan yang efektif dan terukur.
  • Mendukung pengembangan SDM yang berkelanjutan.
  • Meningkatkan efektivitas investasi pelatihan organisasi.

MATERI PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Materi pelatihan meliputi:

  1. Konsep Dasar Training Need Analysis (TNA)
  2. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan Berbasis Kompetensi
  3. Teknik Analisis Kesenjangan Kompetensi (Competency Gap Analysis)
  4. Metode Pengumpulan Data Training Need Analysis
  5. Penyusunan Matriks Kompetensi (Competency Matrix)
  6. Penyusunan Program dan Prioritas Pelatihan
  7. Penyusunan Annual Training Plan (Rencana Pelatihan Tahunan)
  8. Evaluasi Efektivitas Program Pelatihan
  9. Studi Kasus dan Praktik Penyusunan Dokumen TNA
  10. Diskusi dan Konsultasi Implementasi TNA di Organisasi

PESERTA PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Pelatihan ini direkomendasikan bagi:

  • Human Resource Development (HRD)
  • Human Capital
  • Learning and Development (L&D)
  • Training Officer
  • Training Coordinator
  • Organization Development (OD)
  • Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
  • Manajer SDM
  • Supervisor
  • Kepala Bagian
  • Kepala Divisi
  • Tim Pengembangan SDM
  • Tim Perencanaan Organisasi
  • BUMN
  • BUMD
  • Instansi Pemerintah
  • Rumah Sakit
  • Perguruan Tinggi
  • Perusahaan Swasta
  • Yayasan dan organisasi lainnya yang mengelola program pengembangan SDM.

MANFAAT PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Peserta akan memperoleh manfaat sebagai berikut:

  • Memahami teknik penyusunan TNA secara sistematis.
  • Mampu mengidentifikasi kebutuhan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan organisasi.
  • Mengoptimalkan anggaran pelatihan agar lebih efektif.
  • Menyusun program pelatihan berbasis kompetensi.
  • Meningkatkan kualitas pengembangan SDM.
  • Mendukung pencapaian target organisasi melalui peningkatan kompetensi pegawai.
  • Meningkatkan efektivitas pelaksanaan pendidikan dan pelatihan.

BACA JUGA : PELATIHAN MANAGEMENT OF TRAINING (MOT)


PENUTUP PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Pelatihan Training Need Analysis (TNA) merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pengembangan sumber daya manusia yang efektif, terarah, dan berorientasi pada peningkatan kinerja organisasi. Dengan penerapan TNA yang tepat, organisasi dapat memastikan setiap program pelatihan memberikan manfaat nyata, meningkatkan kompetensi pegawai, serta mendukung pencapaian tujuan organisasi secara berkelanjutan.

Diklat Consulting Training Indonesia berkomitmen menghadirkan pelatihan yang berkualitas, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi, didukung oleh narasumber berpengalaman serta metode pembelajaran yang mudah diterapkan di lingkungan kerja.


WAKTU PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

  • Durasi: 2 hari (intensif) Kelas Publik (Tatap Muka di Yogyakarta)
  • Online melalui Zoom Meeting (jadwal reguler tiap bulan)
  • Inhouse Training di lokasi instansi/perusahaan sesuai permintaan

METODE PELAKSANAAN PELATIHAN TRAINING NEED ANALYSIS (TNA)

Pelatihan dilaksanakan dengan metode pembelajaran interaktif dan aplikatif, agar peserta mudah memahami serta mampu menerapkan materi dalam pekerjaan.

Metode yang digunakan meliputi:

  • Ceramah interaktif untuk penyampaian konsep utama.
  • Diskusi dan tanya jawab untuk berbagi pengalaman.
  • Studi kasus dan simulasi untuk memperdalam pemahaman praktis.
  • Presentasi kelompok untuk melatih analisis dan kolaborasi.

Metode dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik organisasi peserta agar hasil pelatihan lebih relevan dan optimal. 

JADWAL DAN TEMPAT PELAKSANAAN PELATIHAN DI YOGYAKARTA TAHUN 2026
DIKLAT CONSULTING TRAINING INDONESIA

Keterangan:
Peserta dapat mengajukan penyesuaian tanggal atau lokasi pelatihan sesuai kebutuhan instansi.

Bulan Batch 1 Batch 2 Batch 3 Batch 4
Januari 2026 05–07

(Senin–Rabu)

12–14

(Senin–Rabu)

21-23

(Rabu-Jumat)

26–28

(Senin–Rabu)

Februari 2026 04–06

(Rabu–Jumat)

12-14

(Kamis-Sabtu)

18-20

(Rabu-Jumat)

24-26

(Selasa-Kamis)

Maret 2026 05–07

(Kamis–Sabtu)

10-12

(Selasa-Kamis)

16–18

(Senin–Rabu)

26-28

(Kamis-Sabtu)

April 2026 06-08

(Senin–Rabu)

15-17

(Rabu-Jumat)

21-23

(Selasa-Kamis)

27–29

(Senin–Rabu)

Mei 2026 04–06

(Senin–Rabu)

11–13

(Senin–Rabu)

19-21

(Rabu-Jumat)

25-27

(Senin-Rabu)

Juni 2026 04–06

(Kamis–Sabtu)

09–11

(Selasa-Kamis)

18–20

(Kamis–Sabtu)

25–27

(Kamis–Sabtu)

Juli 2026 06–08

(Senin–Rabu)

16-18

(Kamis-Jumat)

21-23

(Selas\a-Kamis)

27–29

(Senin–Rabu)

Agustus 2026 06–08

(Kamis–Sabtu)

11-13

(Selasa-Kamis)

20–22

(Kamis–Sabtu)

26–28

(Rabu–Jumat)

September 2026 03-05

(Kamis-Sabtu)

09-11

(Rabu-Jumat)

16-18

(Rabu-Jumat)

24-26

(Kamis-Sabtu)

Oktober 2026 05–07

(Senin–Rabu)

13-15

(Selasa-Kamis)

20-22

(Selasa-Kamis)

26–28

(Senin–Rabu)

November 2026 05–07

(Kamis–Sabtu)

09–11

(Senin–Rabu)

19–21

(Kamis–Sabtu)

26–28

(Kamis–Sabtu)

Desember 2026 03-05

(Kamis-Sabtu)

08-10

(Selasa-Kamis)

14-16

(Senin–Rabu)

21-23

(Senin–Rabu)

TEMPAT PELAKSANAAN PELATIHAN KELAS PUBLIK YOGYAKARTA

Pelatihan dilaksanakan di berbagai hotel berbintang di Yogyakarta, antara lain:
Hotel Ibis Malioboro, Tjokro Style Yogyakarta, Swiss-Belboutique Yogyakarta, Prima Hotel Malioboro, D’Senopati Grand Hotel, Hotel NEO Malioboro, The 101 Style, De Laxston Hotel, ARTE Hotel, Abadi Hotel, Grand Malioboro, Aveta Hotel, dan Arjuna Hotel Yogyakarta.

PAKET & BIAYA FASILITAS PELATIHAN

Diklat Consulting Training Indonesia

Paket Deskripsi Fasilitas Biaya
Paket A (Menginap) Menginap di hotel 3 hari 2 malam (1 kamar/peserta), konsumsi (sarapan & makan siang), coffee break 2 kali, E-Modul & Materi Presentasi, Sertifikat Resmi Diklat Consulting Training Indonesia, foto bersama, tas eksklusif, tanda peserta, dokumentasi, flashdisk, dan souvenir. Rp 5.500.000 / Peserta
Paket B (Tanpa Menginap) Tanpa fasilitas menginap, konsumsi makan siang, coffee break 2 kali, E-Modul & Materi Presentasi, Sertifikat Resmi Diklat Consulting Training Indonesia, foto bersama, tas eksklusif, tanda peserta, dokumentasi, flashdisk, dan souvenir. Rp 4.500.000 / Peserta
Paket C (Online / Zoom) Pelatihan melalui Zoom Meeting dengan instruktur berpengalaman, E-Modul & Materi Presentasi, Sertifikat Resmi Diklat Consulting Training Indonesia, serta rekaman video dan e-materi. Rp 3.500.000 / Peserta

CARA PEMBAYARAN PELATIHAN :

Diklat Consulting Training Indonesia

Transfer Bank
Bank: BCA
No. Rekening: 4452636551
Atas Nama: CV. Diklat Consulting Training Indonesia
Kirim bukti transfer via WhatsApp ke admin nomor Telp/Whatsapp : 0852-8279-7464

Pembayaran di Lokasi 
Dapat dilakukan saat registrasi sebelum pelatihan
Harap tetap konfirmasi ke admin sebelumnya

Batas Konfirmasi
Maksimal 4 hari sebelum pelatihan
Konfirmasi tepat waktu agar slot peserta terjamin


UNDAGAN PELATIHAN DAN FORMULIR PELATIHAN LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI :

Segera daftarkan diri Anda atau tim untuk pelatihan dan nikmati penawaran spesial bagi pendaftar awal!

Pelatihan In-House Training

Diklat Consulting Training Indonesia menyediakan layanan Pelatihan In-House Training bagi instansi pemerintah, badan usaha milik negara, rumah sakit, dan perusahaan swasta yang membutuhkan program pelatihan khusus sesuai kebutuhan organisasi

Ketentuan Pelaksanaan

  • Wilayah Pulau Jawa: minimal 5–10 peserta
  • Luar Pulau Jawa: minimal 10–15 peserta
  • Waktu dan tempat pelaksanaan: menyesuaikan permintaan instansi
  • Batas konfirmasi pelaksanaan: maksimal 6 hari sebelum jadwal pelatihan1

Investasi Pelatihan

Besaran biaya pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran organisasi agar tetap efektif, efisien, dan berdampak optimal bagi peserta

DIKLAT CONSULTING TRAINING INDONESIA
“Meningkaan Kompetensi, Membangun Profesionalisme.”